Inspirasiku22 September 20265 menit baca

Membeli Waktu

1 views· 0 tanggapan
Membeli Waktu

MEMBELI WAKTU

Oleh: *Drajat

Menjadi guru lebih dari tiga dekade menjadikan penulis terbiasa hidup dalam ritme padat. Ditambah dengan amanah sebagai Kepala Sekolah di sebuah Sekolah Plus terbaik di zamannya, aktivitas penulis seakan tak pernah jeda. Pagi-pagi buta selepas subuh sudah berangkat. Pulang ke rumah pun nyaris selalu larut, pukul delapan malam menjadi waktu rutin sampai di rumah.

Akhir pekan? Jangan berharap sepi. Sabtu dan Minggu bukan untuk beristirahat, tapi diisi dengan pengabdian di masyarakat dan kegiatan keagamaan. Singkatnya, penulis menjadi sosok yang sibuk, aktif, produktif, dan tampaknya hebat! Itulah label yang diberikan orang-orang. Bahkan dalam komunitas, penulis dijuluki sebagai Kepala Hebat! Penulis senang karena merasa telah memberikan kontribusi besar untuk orang banyak!

Penulis tak pernah menyangka, bahwa kesibukan yang dianggap mulia oleh banyak orang, justru menyimpan jerit sunyi di rumah sendiri. Suatu malam, di tengah kantuk dan lelah setelah seharian bekerja, penulis pulang seperti biasa. Di ruang keluarga, anak penulis yang saat itu baru berusia 6 tahun menyambut penulis. Wajahnya ceria, namun ada sesuatu yang mengganjal dari matanya yang berbinar. “Ayah…” katanya, “Ayah itu hebat. Jadi Kepala Sekolah terbaik. Orang-orang kenal Ayah. Aktif di mana-mana. Tapi… bolehkah Kakak cerita?”

“Tentu, Ananda. Ayah selalu mendengarkan Kakak,” Jawab penulis.

“Iya Ayah orang hebat, tapi Ayah mendzolimi Kakak, Adik, dan Mamah…” jawab anakku.

Penulis terdiam. Seolah jantung penulis berhenti berdetak sesaat. Kata "mendzolimi" keluar dari mulut mungilnya. Bagaimana bisa seorang anak yang masih sangat kecil memahami kata seberat itu?

Dengan suara pelan namun tegas ia melanjutkan, “Kakak merasa Ayah itu ada buat semua orang, kecuali Kakak. Ayah sibuk terus. Kapan waktu Ayah buat Kakak?”

Lidah penulis kelu. Tak ada pembelaan. Karena kalimat itu tak butuh klarifikasi, tapi perenungan. Penulis baru sadar, anak penulis bukan ingin fasilitas, bukan menginginkan uang atau prestise, melainkan hadirnya penulis sebagai Ayah.

“Kalau memang Ayah tidak punya waktu buat Kakak, Kakak mau tanya: harus bayar berapa agar Ayah bisa meluangkan waktu buat Kakak?”

Penulis tertunduk. Tak sanggup menjawab. Hati penulis meledak. Air mata tumpah. Inilah tamparan paling keras yang pernah penulis terima, bukan dari atasanku, bukan dari masyarakat, tapi dari anak kandungku sendiri.

Selama ini penulis berpikir waktu adalah sumber daya untuk ditukar dengan uang, jabatan, dan pencapaian. Tapi malam itu penulis belajar: Waktu adalah cinta yang diberikan kepada orang-orang yang paling layak mendapatkannya. Keluarga, istri, dan anak-anak, bukan sekadar tempat pulang. Mereka adalah amanah, pelabuhan terakhir ketika semua gemerlap dunia padam.

Ironisnya, penulis justru sibuk memberikan yang terbaik untuk semua orang, kecuali mereka. Penulis membeli kehormatan di luar, dan lupa bahwa waktu untuk keluarga tak bisa dibeli kembali.

Banyak di antara kita, para guru, pemimpin, profesional, terjebak dalam jebakan yang penulis alami. Merasa sedang berjuang untuk keluarga, tapi justru secara tidak sadar meninggalkan mereka.

Sahabat penulis, seorang pejabat tinggi, pernah berkata, “Aku bisa membeli rumah mewah, mobil, dan pendidikan terbaik buat anakku. Tapi aku tidak bisa membeli kenangan masa kecil bersamanya.”

Itulah kebenaran. Anak-anak kita tak butuh Ayah yang sempurna. Mereka hanya butuh Ayah yang hadir. Tidak harus selalu, tapi cukup untuk mereka merasa dicintai, didengarkan, dan diperhatikan.

Penulis mulai belajar memulihkan keadaan. Tidak mudah. Tidak bisa seketika. Tapi penulis percaya: meminta maaf kepada anak bukan tanda lemah, tapi tanda cinta. Penulis mulai menjadwalkan waktu bersama keluarga layaknya penulis menjadwalkan rapat penting. Penulis sediakan waktu quality time tanpa gawai, tanpa rapat, tanpa urusan luar. Hanya penulis dan mereka. Makan Bersama, mengobrol, bermain, dan bercerita.

Penulis belajar mendengar mereka, bukan sekadar mendikte. Penulis belajar menjadi ayah, bukan sekadar penyedia nafkah. Dan penulis bersyukur, karena perlahan mata anak penulis mulai berbinar lagi, bukan karena bangga punya Ayah hebat, tapi karena punya Ayah yang hadir.

Jika Anda bertanya kepada penulis, “Apa prestasi terbesar Anda sebagai guru, kepala sekolah, doktor, dan aktivis?” Maka penulis akan menjawab: “Menyadari bahwa anak tidak butuh ayah hebat di luar, tetapi ayah yang pulang membawa cinta.”

Sebagus apapun jabatan dan gelar, ia takkan berarti jika rumah kita sepi cinta. Kita bisa menyentuh ribuan murid, tapi jangan sampai kehilangan anak kandung sendiri. Karena pada akhirnya, tak ada karier yang lebih mulia daripada menjadi Ayah yang hadir.**

Penulis, Praktisi Pendidikan dan Hipnoterapis

#pendidikan

Tanggapan (0)

Belum ada tanggapan. Jadilah yang pertama menulis.

Tulis Tanggapan

Tanggapan Anda akan ditinjau oleh guru sebelum tampil publik.