Hantu yang Menakutkan
Belum lama ini di SD Arum terjadi sesuatu yang menggemparkan. Pasalnya sebagian besar siswanya kemasukan “hantu”. Mereka menjerit-jerit minta tolong. “Takut-takut,” teriak Beta. “Aduh takut, takut, takut,” jerit Penta sambil menutup wajahnya. “Tolong, ayah ibu aku takut,” teriakan Sigma.

Belum lama ini di SD Arum terjadi sesuatu yang menggemparkan. Pasalnya sebagian besar siswanya kemasukan “hantu”. Mereka menjerit-jerit minta tolong.
“Takut-takut,” teriak Beta.
“Aduh takut, takut, takut,” jerit Penta sambil menutup wajahnya.
“Tolong, ayah ibu aku takut,” teriakan Sigma.
Hari itu benar-benar hari yang tidak bisa dilupakan oleh Sekolah Arum. Berita pun menyebar kemana-mana. Berita yang sangat menggemparkan. Koran di kota itu memberitakan, bahwa di SD Arum terjadi kejadian yang menghebohkan.
Selidik punya selidik kejadian apa gerangan yang membuat siswa SD Arum menjerit-jerit? Ternyata, ketika pembagian rapor kenaikan kelas sebagian besar siswa SD Arum memperoleh angka merah bidang studi matematika. Entah bagaimana, mereka serempak menjerit ketakutan. Takut seperti dikejar-kejar hantu, katanya.
Permasalahan ini akhirnya menjadi masalah umum. Bagaimana agar anak-anak tidak takut dengan pelajaran ini. Toh setiap menghadapi pelajaran matematika anak-anak sungkan, malas, dan ingin cepat-cepat selesai. Padahal jelas pelajaran ini sangat dibutuhkan, dan membantu pelajaran lainnya. Kemudian para orangtua sepakat untuk mendatangkan pakar matematika.
Seminar pun dimulai. Pakar matematika menceritakan panjang lebar bagaimana caranya agar anak-anak bisa bersahabat, bahkan keranjingan dengan matematika. Untuk membuktikannya, pakar ini membawa seorang anak. Ia memperaktekkan bagaimana bocah ini mampu menjawab persoalan matematika dengan tepat, cepat, dan menyenangkan.
Menurut anak ini ada beberapa tips agar kita “jago” matematika. Apa gerangan tips itu? Pertama fun. Ya pertama fun atau menyenangkan. Kalau kita senang sesuatu dengan pasti hasilnya memuaskan. Demikian juga dengan belajar matematika usahakanlah senang terlebih dahulu. Selanjutnya ia menceritakan tips lainnya sesuai dengan buku yang dibacanya, Menghitung Vampir. Katanya, berdoa dulu kepada Allah agar diberikan ketajaman berpikir. Lalu, rasa ingin tahu yang tinggi. Kemudian tidak cepat putus asa, banyak latihan, jadikanlah sahabat. Selanjutnya menulis rumus di tempat-tempat yang mudah dilihat. Dan yang terakhir banyak membaca buku.
Para orang tuabegitu antusias mendengar tuturan pakar matematika dan cerita anak itu. Berbagai macam pertanyaan dilontarkan. Hal hasil, mereka meminta pakar matematika untuk membimbing anak-anakya. Namun demikian, sebelum mengabulkan permintaan tersebut pakar matematika itu meminta bocah kecil yang ia bawa memperlihatkan kebolehannya.
“Ibu-Ibu, Bapak-Bapak, ijinkanlah saya untuk memperlihatkan keasyikan saya bersahabat dengan matematika. Silahkan Ibu dan Bapak mananyakan masalah matematika. InsyaAllah akan saya jawab,” ujar Bocah tersebut.
“Saya De!” kata seorang Bapak dengan mengacungkan tangannya.
“Boleh, silahkan Bapak masalahnya apa?”
“Begini De, Bapak punya persoalan bagaimana memeriksa penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian secara cepat dan tepat?” tanya Bapak itu.
Semua hadirin mengerutkan dahi. Persoalan itu tidak mudah untuk dijawab. Ya, bagaimana bisa menjawab dengan cepat dan tepat oleh seorang bocah. Semua hening. Mereka bertanya-tanya, apa bisa terjawab? Atau yang nanti menjawab malah pakar matematika?
Tidak lamabocah tersebut tersenyum sambil berkata, “Begitu Bapak? Begini caranya. Katakanlah penjumlahannya 4567 + 5432 = 9999. Sedangkan pengurangan 9876 – 4536 = 5340. Perkaliannya 675 x 56 = 38800. Dan pembagiannya 375 : 25 = 15. Nah, kira-kira bagaimana caranya?” ujar bocah itu balik bertanya.
“Ya, itulah yang Bapak tanyakan, bagaimana caranya memeriksa pekerjaan kita itu?” Tanya Bapak itu tersenyum.
“Begini,4567 + 5432 = 9999. Kita ambil sum digitnya. 4567 = 4 + 5 + 6 + 7 = 22. 2 + 2 = 4. Jadi sum digitnya 4. Kemudian 5432 = 5 + 4 + 3 + 2 = 14. 1 + 4 = 5. Jadi sum digitnya 5. Jika kita jumlahkan 4 + 5 = 9. Maka hasilnya penjumlahkan sum digitnya harus 9. Mari kita lihat, hasil 9999. Sum digitnya 9 + 9 + 9 + 9 = 36. 36 = 3 + 6 = 9. Jadi penjumlahkan tersebut benar. Nah, bagaimana Bapak paham?” Tanya Bocah itu.
“Oh begitu. Kalau demikian pengurangan, perkalian, dan pembagian pun sama caranya dengan mencari sum digitnya?”
“Ya, betul. Silahkan Bapak dan Ibu mencoba soal yang belum saya selesaikan tadi!”
Seluruh hadirin yang ada di ruangan penasaran ingin mencoba kiat gampang yang diberikan anak kecil itu.
“Alhamdulillah, ternyata mudah ya!” ujar Bapak yang tadi bertanya.
“Silahkan Bapak katakan kalau sudah.”
“9876 – 4536 = 5340. Sum digitnya masing-masing 3, 9 dan 3. Karena 9 sum digitnya sama dengan 0. Maka 3 – 0 = 3. Dan konsep pengurangan hasil pengurangan dijumlahkan dengan bilangan pengurang. Jadi 3 + 0 = 3. Sedangkan 675 x 56 = 37800.Sum digitnya 9, 2, dan hasilnya 9.Kita kalikan 9 x 2 = 18. Sum digitnya 1 + 8 = 9. Begitu kan?” jawab Bapak itu tersenyum.
“Bagaimana yang satu lagi mau mencoba?” tanya anak itu.
“Boleh Ibu jawab?” kata Ibu yang ada di barisan tengah.
“Silahkan Bu, kalau Ibu mau mencobanya.”
“Karena soalnya 375 : 25 = 15. Sum digitnya masing-masing, 6, 7, dan hasilnya 6. Karena konsep memeriksa pembagian adalah hasil bagi dikali bilangan pembaginya. Jadi 6 x 7 = 42. Sum digitnya 6. Jadi sesuai dengan cara dari anak kecil ini,” ujar Ibu itu sambil menunjuk ke arah bocah tersebut.
“Tepuk tangan para hadirin,” ujar Bocah itu meminta para hadirin untuk bertepuk tangan.
Ruangan seketika riuh dengan tepuk tangan. Para hadirin merasakan puas atas pertemuan hari itu. Ternyata apa yang dibayangkan, bahwa matematika adalah sesuatu yang menakutkan seperti hantu, ternyata mudah. “Ya, mudah tidak seperti hantu yang menakutkan?” kelakar hadirin.
Sebelum berakhir, pakar matematika mempersilahkan hadirin untuk datang ke galerinya. Ya, Galeri Matematika tempat di mana anak-anak menumpahkan kreatifitas bilangan.*