Kembali ke Bacaanku
Bacaanku26 Oktober 2026

HUTANKU MENANGIS

Sebagai guru, penulis sering kehilangan kata-kata ketika peserta didik melontarkan pertanyaan yang tidak sederhana. “Pak, mengapa hutan kita terbakar?” “Mengapa binatang kehilangan rumahnya?” “Kalau hutan ditebang untuk perkebunan, nanti kita bernapas dengan apa?”

15 views· 0 tanggapan
HUTANKU MENANGIS

ENTAH sampai kapan negeriku harus menangis. Jeritannya mungkin belum benar-benar berhenti, tetapi telinga kita seolah semakin terbiasa mendengarnya. Hutan terbakar, pepohonan tumbang, satwa kehilangan habitat, dan manusia menghirup udara yang semestinya menjadi sumber kehidupan. Sementara itu, di tengah segala kerusakan, kita masih bertanya: sudahkah kita sungguh-sungguh mendengarkan suara alam?

Ada sesuatu yang terasa ganjil ketika kita menyebut Indonesia sebagai negeri yang kaya raya, tetapi kekayaan alamnya terus menghadapi ancaman. Hutan yang seharusnya menjadi warisan bagi generasi mendatang dapat berubah menjadi lahan terbuka. Sungai yang semestinya mengalirkan kehidupan tercemar. Udara yang semestinya kita hirup dengan lega justru dapat berubah menjadi ancaman bagi kesehatan.

Sebagai guru, penulis sering kehilangan kata-kata ketika peserta didik melontarkan pertanyaan yang tidak sederhana.

“Pak, mengapa hutan kita terbakar?”

“Mengapa binatang kehilangan rumahnya?”

“Kalau hutan ditebang untuk perkebunan, nanti kita bernapas dengan apa?”

Pertanyaan-pertanyaan itu tidak lahir begitu saja. Anak-anak menyaksikan berita dan video kebakaran hutan melalui media sosial. Mereka melihat api melahap pepohonan, asap menyelimuti permukiman, dan satwa liar berjuang di tengah habitat yang rusak. Mereka kemudian membawa kegelisahan itu ke ruang kelas, tempat mereka berharap menemukan jawaban.

Penulis menyadari, tantangan seorang guru bukan sekadar menjelaskan mengapa kebakaran terjadi. Tantangan yang lebih besar adalah menjawab dengan jujur tanpa menumbuhkan keputusasaan, sekaligus mengajarkan kepedulian tanpa menanamkan kebencian. Sebab, di hadapan anak-anak, kita bukan hanya sedang menjelaskan keadaan hari ini. Kita sedang membentuk cara mereka memandang masa depan.

Belakangan ini, Kalimantan menjadi salah satu wilayah yang sangat penting dalam pembicaraan tentang masa depan hutan Indonesia. Hutan-hutannya menyimpan keanekaragaman hayati yang luar biasa, menjadi habitat berbagai satwa, dan berperan dalam menjaga siklus air serta keseimbangan iklim.

Kita boleh menyebutnya sebagai salah satu paru-paru bumi, tetapi jangan sampai ungkapan itu hanya menjadi slogan yang indah. Hutan bukan sekadar hamparan pepohonan yang bisa dihitung luasnya dari citra satelit. Di dalamnya terdapat kehidupan yang saling bergantung: tumbuhan, satwa, tanah, air, dan manusia yang menggantungkan hidup pada kelestariannya.

Ketika hutan terbakar, dampaknya tidak berhenti pada pohon yang hangus. Satwa dapat kehilangan tempat berlindung dan sumber makanan. Api yang merambat ke lahan gambut dapat melepaskan asap dalam jumlah besar dan membuat pemadaman jauh lebih sulit. Masyarakat di sekitar wilayah terdampak dapat mengalami gangguan kesehatan, aktivitas belajar terganggu, dan mata pencaharian terancam. Karena itu, kebakaran hutan bukan sekadar persoalan api. Ia adalah persoalan kemanusiaan, keadilan lingkungan, dan tanggung jawab kita terhadap generasi yang belum lahir.

Sawit, Hutan, dan Keberanian Mengatakan Kebenaran

Di ruang kelas, pertanyaan lain muncul: mengapa hutan dibuka untuk perkebunan kelapa sawit?

Penulis tidak ingin menjawab dengan menyederhanakan persoalan. Kelapa sawit merupakan komoditas penting bagi perekonomian dan menjadi sumber penghidupan banyak orang. Persoalannya bukan semata-mata pada tanaman sawit, melainkan pada bagaimana perkebunan dikembangkan, dari mana lahannya berasal, bagaimana perizinannya diberikan, dan apakah kegiatan tersebut merusak hutan alam serta mengabaikan hak masyarakat.

Jika hutan alam dikorbankan demi keuntungan jangka pendek, kita harus berani mempertanyakannya. Jika pembukaan lahan dilakukan dengan membakar secara melanggar hukum, pelakunya harus ditindak. Jika ada perusahaan atau pihak lain yang terbukti bertanggung jawab atas kerusakan, penegakan hukum harus berjalan tanpa pandang bulu.

Namun, kita juga harus berhati-hati. Tidak setiap kebakaran otomatis disebabkan oleh perkebunan sawit, dan tidak setiap peristiwa dapat langsung ditimpakan kepada pihak tertentu tanpa penyelidikan. Justru karena persoalan ini serius, kita membutuhkan data, pemeriksaan, transparansi, dan penegakan hukum yang dapat dipertanggungjawabkan.

Di sinilah peran pemerintah menjadi sangat penting. Pencegahan kebakaran tidak cukup dilakukan ketika api sudah membesar. Pengawasan harus berjalan sejak awal, terutama di wilayah rawan kebakaran dan lahan gambut. Perizinan perlu diawasi, kawasan hutan harus dilindungi, dan masyarakat setempat harus dilibatkan sebagai mitra penjaga lingkungan.

Pemimpin tidak cukup hadir ketika bencana menjadi berita utama. Kepemimpinan diuji ketika bahaya masih dapat dicegah, ketika keputusan sulit harus diambil, dan ketika kepentingan ekonomi berhadapan dengan keselamatan lingkungan.

Kita tidak membutuhkan kemarahan yang hanya ramai sesaat. Kita membutuhkan keberanian memperbaiki kebijakan, ketegasan menegakkan aturan, dan kesediaan mempertanggungjawabkan keputusan kepada rakyat. Sebab, kekayaan alam bukan milik segelintir orang yang dapat diperlakukan sesuka hati. Ia adalah amanah yang harus dijaga agar manfaatnya tidak berhenti pada satu generasi.

Menjawab Anak-Anak Tanpa Mematikan Harapan

Lantas, bagaimana penulis harus menjawab pertanyaan peserta didik? Penulis ingin mengatakan kepada mereka bahwa kebakaran hutan bukanlah takdir yang harus diterima begitu saja. Ada faktor alam, seperti cuaca kering dan kemarau panjang, yang dapat meningkatkan risiko kebakaran. Namun, aktivitas manusia, pembukaan lahan yang tidak bertanggung jawab, dan lemahnya pencegahan juga dapat memperburuk keadaan.

Artinya, sebagian risiko dapat dikurangi jika manusia bertindak lebih bijaksana. Kebakaran dapat dicegah, kawasan rusak dapat dipulihkan, dan pelanggaran dapat ditindak. Hasilnya memang tidak selalu cepat, tetapi upaya itu harus terus dilakukan.

Penulis juga ingin mereka memahami bahwa kita tidak perlu membenci seluruh pemimpin hanya karena ada kebijakan yang patut dikritik. Kita perlu belajar membedakan fakta, dugaan, dan opini; memeriksa sumber berita; serta menyampaikan kritik dengan santun dan argumentasi yang kuat.

Kepada mereka, penulis ingin berkata, “Kalian boleh marah melihat hutan terbakar. Kalian boleh sedih melihat satwa kehilangan rumah. Namun, jangan berhenti pada kemarahan. Gunakan kepedulian itu untuk belajar, bertanya, mencari kebenaran, dan melakukan sesuatu yang bermanfaat.”

Mereka dapat memulai dari lingkungan sekolah: menghemat kertas, merawat pohon, mengurangi sampah, mengikuti kegiatan penghijauan, dan menyebarkan informasi lingkungan dari sumber tepercaya. Tindakan kecil itu bukan pengganti tanggung jawab pemerintah atau pelaku usaha, tetapi bagian dari pendidikan agar kepedulian tumbuh menjadi kebiasaan.

Kita juga perlu mengajarkan bahwa menjaga lingkungan bukan sekadar kegiatan menanam pohon untuk kemudian difoto. Menanam harus diikuti merawat. Membersihkan lingkungan harus disertai perubahan perilaku. Membicarakan kelestarian hutan harus diikuti kesediaan memahami hubungan antara alam, ekonomi, dan kesejahteraan masyarakat.

Dengan demikian, ruang kelas tidak menjadi tempat untuk menumbuhkan kecemasan, melainkan tempat membangun kesadaran dan keberanian bertindak.

Ketika Alam Mengingatkan Manusia

Sebagai manusia beragama, kita meyakini bahwa alam bukan sesuatu yang terpisah dari tanggung jawab moral. Dalam Al-Qur'an, Surah Ar-Rum ayat 41, dijelaskan bahwa kerusakan di darat dan di laut terjadi karena perbuatan tangan manusia, agar manusia merasakan sebagian akibat perbuatannya dan kembali ke jalan yang benar.

Ayat ini mengajak kita bercermin. Bukan untuk dengan mudah menunjuk orang lain sebagai penyebab semua bencana, melainkan untuk menilai kembali perilaku dan keputusan kita sendiri.

Kisah Firaun pun mengandung pelajaran tentang kesombongan dan penyalahgunaan kekuasaan. Kekuasaan bukan jaminan keselamatan ketika manusia menolak kebenaran dan bertindak sewenang-wenang. Namun, sebagai pendidik, kita harus berhati-hati untuk tidak memastikan bahwa bencana tertentu merupakan hukuman Tuhan terhadap seseorang atau kelompok tertentu. Yang dapat kita lakukan adalah mengambil hikmah, memperbaiki diri, dan menegakkan tanggung jawab manusia terhadap sesama serta alam.

Hutan yang terbakar semestinya menjadi peringatan bagi kita semua. Bukan hanya bagi pemerintah, bukan hanya bagi perusahaan, dan bukan hanya bagi masyarakat yang tinggal dekat hutan. Kita semua memiliki tanggung jawab sesuai peran masing-masing.

Akan tetapi, tanggung jawab tidak berarti semua pihak memiliki kewenangan dan beban yang sama. Pemerintah memiliki kewajiban membuat dan menegakkan kebijakan. Pelaku usaha harus menjalankan kegiatan secara bertanggung jawab. Masyarakat perlu ikut menjaga lingkungan. Sementara itu, dunia pendidikan bertugas menumbuhkan pengetahuan, karakter, dan kepedulian agar generasi mendatang tidak mengulangi kesalahan yang sama.

Di tengah semua itu, suara guru mungkin terdengar kecil. Namun, ketika seorang guru membantu peserta didik memahami persoalan, menumbuhkan kepedulian, dan berani membedakan kebenaran dari informasi yang menyesatkan, sesungguhnya ia sedang menanam benih perubahan.

Penulis tidak ingin anak-anak mewarisi negeri yang membuat mereka kehilangan harapan. Saya ingin mereka mewarisi negeri yang mengajarkan bahwa kerusakan dapat diperbaiki, kesalahan dapat dikoreksi, dan kekuasaan harus dijalankan dengan tanggung jawab.

Hutan kita sedang menangis. Pertanyaannya, apakah kita hanya akan menjadi penonton, atau bersedia menjadi bagian dari upaya menyembuhkannya? Jangan sampai kelak anak-anak bertanya bukan lagi mengapa hutan kita terbakar, melainkan mengapa orang-orang dewasa mengetahui bahayanya tetapi terlambat bertindak.

Hutan bukan warisan yang boleh kita habiskan, melainkan titipan yang harus kita jaga. Sebab, ketika hutan kehilangan suaranya, manusia baru menyadari betapa berharganya kehidupan yang dahulu tumbuh di dalamnya.

Dan sebagai guru, penulis ingin menjawab kegelisahan peserta didik dengan satu janji: selama masih ada kesempatan untuk belajar dan bertindak, kita tidak boleh berhenti merawat harapan—bagi hutan, bagi kehidupan, dan bagi Indonesia yang kelak mereka warisi.**

Tanggapan (0)

Belum ada tanggapan. Jadilah yang pertama menulis.

Tulis Tanggapan

Tanggapan Anda akan ditinjau oleh guru sebelum tampil publik.

HUTANKU MENANGIS — Calistung